
Edukreatif.id, Sukabumi – Desamind Indonesia melalui unit pengembangan Desamind Farm resmi menyelenggarakan Soft Launching Bumi Sawala (Agroeduwisata) pada Sabtu, 11 Januari 2026. Kegiatan ini berlangsung di Bodogol Kampung Hoya, Desa Benda, Kecamatan Cicurug, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat.
Soft launching tersebut menjadi uji coba awal (dry run) sekaligus membuka rangkaian peringatan Dies Natalis ke-6 Desamind Indonesia. Bumi Sawala dikembangkan sebagai ruang belajar hidup yang memadukan unsur edukasi, pelestarian lingkungan, serta pemberdayaan masyarakat desa dalam satu ekosistem agroeduwisata.
Sebanyak 20 pengurus pusat Desamind Indonesia turut hadir sebagai peserta dry run. Mereka berasal dari berbagai daerah, seperti Solo, Magelang, Klaten, Semarang, hingga kawasan Jabodetabek. Kehadiran lintas wilayah ini menjadi bentuk dukungan sekaligus sarana evaluasi awal terhadap konsep pengalaman agroeduwisata yang akan dikembangkan secara berkelanjutan di Bumi Sawala.
Keseruan Games Pembukaan
Kegiatan diawali dengan penyambutan oleh pemuda lokal yang menjadi pengelola Bumi Sawala. Selanjutnya, peserta mengikuti sesi pengenalan kawasan dan tur edukatif. Dalam rangkaian ini, peserta diajak mengunjungi peternakan terintegrasi, mempelajari pengolahan kompos ramah lingkungan, serta mengenal tanaman Hoya khas Bodogol.

Selain itu, peserta juga terlibat langsung dalam berbagai praktik agroedukasi sederhana, seperti mencukur bulu domba, membuat kokedama, hingga memetik hasil kebun. Seluruh aktivitas dirancang secara partisipatif agar pengunjung dapat merasakan langsung praktik pertanian berkelanjutan dan kehidupan desa secara nyata.
Praktik Mencukur Bulu Domba
Sebagai uji coba perdana, Soft Launching Bumi Sawala menjadi ruang refleksi dan evaluasi awal bagi seluruh pengelola. Hasil dari dry run ini akan menjadi dasar penyempurnaan konsep sebelum Bumi Sawala dibuka lebih luas untuk masyarakat umum.

Director of Desamind Farm, Zakky Muhammad Noor, menyampaikan bahwa Bumi Sawala merupakan buah dari proses panjang yang dibangun secara bertahap melalui kolaborasi banyak pihak.
“Saya tidak pernah membayangkan ide Bumi Sawala bisa sampai di titik ini. Konsep yang melahirkan local heroes ini dibangun dari nol, dengan keyakinan dan kegigihan bersama. Semua pihak saling memberi ruang untuk belajar dan bertumbuh,” ujarnya.
Hasil Kerajinan Kokedama Peserta Soft Launching Bumi Sawala
Hal serupa disampaikan oleh Salman, Koordinator Lapangan Bumi Sawala, yang menekankan pentingnya proses pendampingan pemuda desa sebagai fondasi keberlanjutan program.

“Di awal, pemuda lokal sempat merasa pesimis dan bingung harus memulai dari mana. Minimnya keterampilan membuat kami kurang percaya diri. Namun, melalui pendampingan dari tim Desamind, kami perlahan belajar, terus mencoba, dan akhirnya sampai di tahap ini. Kami sadar, ini bukan akhir, melainkan awal dari perjalanan panjang,” ungkapnya.
Sementara itu, salah satu peserta dry run, Isna Fahrizal, Director of Secretariat & Finance Desamind Indonesia, mengapresiasi kerja keras seluruh pengelola Bumi Sawala, khususnya peran aktif pemuda desa.
“Pengalaman agroeduwisata yang disajikan terasa sangat otentik. Pemuda Bumi Sawala menunjukkan kesiapan, keramahan, serta semangat belajar yang luar biasa. Harapannya, semakin banyak pengunjung yang datang dan merasakan manfaatnya, sekaligus membawa dampak positif bagi desa,” tuturnya.
Penulis: Ahmad Zamzami
Leave a Reply