
Edukreatif.id, Karanganyar — Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN-DIK) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) melaksanakan program inovatif bertajuk JELITA (Jelantah Lilin Aromaterapi) di Dukuh Tunggul Rejo, Desa Munggur, Kecamatan Mojogedang, Kabupaten Karanganyar. Program ini bertujuan untuk mengatasi permasalahan limbah rumah tangga, khususnya minyak jelantah, yang selama ini masih sering dibuang sembarangan oleh masyarakat.
“Kegiatan ini difokuskan pada peningkatan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pengelolaan limbah secara ramah lingkungan, sekaligus memberikan keterampilan praktis dalam mengolah minyak jelantah menjadi produk bernilai guna. Melalui program ini, minyak bekas yang sebelumnya dianggap tidak berguna dapat diubah menjadi lilin aromaterapi yang bermanfaat untuk kebutuhan rumah tangga maupun peluang usaha,” ujar Aulia, mahasiswa KKN UMS.
Pelaksanaan program diawali dengan tahap survei dan observasi langsung di lingkungan masyarakat. Mahasiswa KKN melakukan diskusi dengan warga dan tokoh setempat untuk mengidentifikasi kebiasaan dalam pengelolaan limbah minyak jelantah. Hasilnya menunjukkan bahwa sebagian besar masyarakat masih membuang limbah tersebut ke saluran air atau tanah, yang berpotensi mencemari lingkungan. Minimnya pengetahuan tentang dampak limbah dan cara pengolahannya menjadi faktor utama permasalahan tersebut. Berdasarkan temuan tersebut, mahasiswa kemudian merancang kegiatan pelatihan sebagai solusi. Sebelum pelaksanaan, mahasiswa melakukan riset dan uji coba untuk menentukan formulasi terbaik dalam pembuatan lilin aromaterapi. Persiapan juga meliputi penyediaan alat dan bahan, seperti minyak jelantah, bahan pengeras, sumbu lilin, serta bahan pewangi.
Kegiatan pelatihan dilaksanakan dengan melibatkan ibu rumah tangga dan anggota PKK setempat. Metode yang digunakan bersifat interaktif, yaitu melalui demonstrasi dan praktik langsung. Peserta diajarkan mulai dari proses penyaringan minyak untuk menghilangkan kotoran dan bau, pencampuran bahan, hingga proses pencetakan menjadi lilin aromaterapi yang siap digunakan.
Sebanyak 40 peserta dari tiga RT mengikuti kegiatan ini dengan antusias. Mereka tidak hanya memahami materi yang disampaikan, tetapi juga mampu mempraktikkan secara langsung proses pembuatan lilin. Hasilnya, peserta berhasil menghasilkan produk lilin aromaterapi sederhana yang memiliki nilai manfaat.
Program ini memberikan dampak positif bagi masyarakat, baik dari segi pengetahuan maupun keterampilan. Masyarakat menjadi lebih memahami bahwa limbah minyak jelantah dapat dimanfaatkan kembali menjadi produk yang berguna dan bernilai ekonomi. Selain itu, kegiatan ini juga membuka peluang bagi warga untuk mengembangkan usaha rumahan berbasis pemanfaatan limbah.
Selain menghasilkan produk, kegiatan ini juga menekankan pentingnya proses pengolahan yang tepat agar kualitas lilin tetap terjaga. Dalam pelatihan, mahasiswa menjelaskan bahwa minyak jelantah harus melalui tahap penjernihan menggunakan bahan seperti arang aktif untuk menghilangkan bau dan kotoran. Setelah itu, minyak dicampur dengan bahan pengeras seperti stearin dengan perbandingan tertentu dan dipanaskan secara perlahan agar tidak merusak kualitas campuran. Proses ini menjadi kunci utama dalam menghasilkan lilin aromaterapi yang baik dan tahan lama.
Ibu Sari selaku Ketua Ibu-Ibu PKK mengungkapkan, “Pada tahap akhir, kami diajarkan teknik pencetakan menggunakan wadah sederhana seperti gelas bekas yang sudah dibersihkan. Sumbu lilin diposisikan di tengah agar hasil pembakaran optimal. Kami juga diperkenalkan dengan penambahan minyak esensial seperti lavender atau serai wangi untuk memberikan efek relaksasi sekaligus nilai tambah pada produk. Setelah itu, lilin didiamkan pada suhu ruang hingga mengeras sempurna dan siap digunakan.”
Ia juga menambahkan, “Program JELITA ini sangat membantu kami dalam mengurangi pencemaran lingkungan akibat pembuangan minyak jelantah sembarangan. Kegiatan ini juga membuat kami lebih peduli terhadap pengelolaan limbah rumah tangga. Selain mendapatkan ilmu baru, kami juga merasa diberdayakan karena bisa mengolah limbah menjadi produk yang bermanfaat.”
Penulis: Azka Genta Buana
Leave a Reply