Press ESC to close

Monev II Beasiswa Desamind 5.0 Dorong Inovasi Mahasiswa Menjadi Solusi Berkelanjutan di Desa

SURAKARTA — Inovasi sosial yang lahir dari generasi muda membutuhkan lebih dari sekadar ide dan pendanaan. Pendampingan, evaluasi, serta penguatan strategi keberlanjutan menjadi bagian penting agar sebuah program benar-benar dapat memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat.

Komitmen tersebut kembali diperkuat Desamind Indonesia melalui kegiatan Monitoring dan Evaluasi (Monev) II Beasiswa Desamind 5.0 yang dilaksanakan secara daring pada Sabtu (25/7/2026). Kegiatan ini menjadi ruang bagi para penerima Beasiswa Desamind atau awardee untuk mempresentasikan perkembangan program pemberdayaan masyarakat yang telah mereka jalankan di berbagai daerah di Indonesia.

Tidak hanya mengevaluasi capaian program, Monev II juga menjadi forum refleksi dan pembelajaran. Para awardee mendapatkan masukan untuk mengidentifikasi berbagai tantangan di lapangan, memperbaiki strategi implementasi, serta memastikan program yang dikembangkan memiliki peluang untuk terus berjalan bersama masyarakat.

President Director Desamind Indonesia, Hardika Dwi Hermawan, menyampaikan bahwa Beasiswa Desamind tidak dirancang semata-mata sebagai program bantuan pendanaan bagi mahasiswa. Lebih dari itu, program tersebut menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem kepemimpinan sosial dan menumbuhkan generasi muda sebagai agen perubahan di desa.

“Keberhasilan sebuah program tidak hanya diukur dari banyaknya kegiatan yang telah dilaksanakan, tetapi dari sejauh mana program tersebut mampu menciptakan perubahan yang dirasakan masyarakat serta dapat terus berjalan setelah program berakhir. Karena itu, monitoring dan evaluasi menjadi ruang belajar bagi setiap awardee untuk terus menyempurnakan program yang mereka jalankan,” ujar Hardika.

Dalam kegiatan tersebut, sesi evaluasi menghadirkan tiga panelis dengan latar belakang keahlian yang beragam, yakni Vice Director of Public Relations Division Desamind Ahmad Zamzami, Climate & Sustainability Researcher ECADIN Mohammad Rifli Mubarak, serta Associate Scholarship Division Desamind Anggun S. Rahmi.

Para panelis memberikan tanggapan terhadap perkembangan program berdasarkan sejumlah aspek, mulai dari kesesuaian antara perencanaan dan implementasi, keterlibatan masyarakat, efektivitas pemanfaatan sumber daya, inovasi, keberlanjutan program, hingga peluang membangun jejaring kemitraan.

Mohammad Rifli Mubarak menilai program-program yang dikembangkan para awardee menunjukkan kemampuan generasi muda dalam memahami persoalan yang dihadapi masyarakat di tingkat lokal dan menerjemahkannya menjadi solusi yang relevan.

“Seluruh program yang dipresentasikan memiliki potensi untuk memberikan dampak yang nyata karena berangkat dari kebutuhan masyarakat. Ke depan, yang perlu diperkuat adalah strategi keberlanjutan, pengukuran dampak, serta kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan agar manfaat program tidak berhenti ketika masa beasiswa selesai,” jelas Rifli.

Berbagai inovasi yang dipresentasikan dalam Monev II mencerminkan keberagaman persoalan dan potensi yang ada di masyarakat. Di bidang ekonomi dan pemberdayaan masyarakat, Aprila Kusuma Dewi memperkenalkan PEPAYA CHIPSY, sebuah program pengolahan pepaya menjadi keripik di Desa Bumirejo, Kabupaten Kulon Progo.

Melalui program tersebut, masyarakat didorong untuk meningkatkan nilai tambah komoditas pertanian sekaligus membuka peluang usaha baru. Kegiatan yang dilakukan meliputi pelatihan produksi, pengemasan, hingga pemasaran produk.

Sementara itu, perhatian terhadap isu pendidikan dan perlindungan anak diwujudkan Wawan Sulaeman melalui program Sekolah Nusantara di MI Al-Bahja, Kabupaten Subang. Program ini memberikan edukasi mengenai kesehatan reproduksi dan perlindungan anak dengan pendekatan yang komunikatif serta disesuaikan dengan usia peserta didik.

Materi yang diberikan antara lain berkaitan dengan perlindungan diri, pemahaman mengenai batasan tubuh, serta pencegahan kekerasan seksual pada anak.

Di Desa Bringkang, Bayu Hardito mengembangkan MAGGOVATE (Maggot Innovation for Sustainable Village)sebagai pendekatan pengelolaan sampah organik berbasis ekonomi sirkular. Limbah organik dimanfaatkan sebagai media budidaya maggot yang selanjutnya dapat digunakan sebagai pakan ikan.

Program tersebut juga mulai mengintegrasikan teknologi Internet of Things (IoT) untuk mendukung proses monitoring budidaya maggot.

Inovasi lain datang dari Ruhillah Khadijah El Basri melalui program Duck Value Enhancement. Program tersebut berfokus pada peningkatan nilai ekonomi telur bebek melalui pengembangan produk dengan berbagai varian rasa, inovasi kemasan, serta penguatan strategi pemasaran produk lokal di Desa Prasung.

Adapun Anisatul Himmah mengembangkan Sentra TOGA Kalibaru Kulon, sebuah inisiatif yang mengoptimalkan pemanfaatan tanaman obat keluarga. Program ini tidak hanya menjadi sarana edukasi kesehatan bagi masyarakat, tetapi juga diarahkan untuk membuka peluang usaha melalui pengembangan produk berbasis herbal.

Selama proses evaluasi, para panelis memberikan sejumlah rekomendasi bagi pengembangan program. Beberapa hal yang menjadi perhatian meliputi pentingnya penyusunan indikator keberhasilan yang lebih terukur, peningkatan keterlibatan masyarakat, strategi keberlanjutan setelah program selesai, serta perluasan kolaborasi dengan berbagai pihak.

Awardee juga didorong untuk membangun jejaring dengan pemerintah desa, perguruan tinggi, pelaku UMKM, maupun sektor swasta. Selain itu, penguatan dokumentasi, publikasi, dan pengukuran dampak sosial dinilai penting sebagai bagian dari akuntabilitas pelaksanaan program.

Kegiatan berlangsung secara interaktif dengan adanya pertukaran pengalaman antarpeserta. Para awardee tidak hanya memperoleh masukan dari panelis, tetapi juga belajar dari pengalaman rekan-rekan mereka dalam menghadapi dinamika implementasi program di lapangan.

Melalui Monev II Beasiswa Desamind 5.0, Desamind Indonesia kembali menegaskan pentingnya proses pendampingan dalam membentuk mahasiswa sebagai agen perubahan. Pendampingan tidak berhenti pada pemberian dukungan pendanaan, tetapi juga mencakup penguatan kapasitas kepemimpinan, inovasi sosial, manajemen program, dan strategi keberlanjutan.

Berbagai program yang dipresentasikan menunjukkan bahwa generasi muda memiliki potensi besar untuk menghadirkan solusi yang berangkat dari kebutuhan nyata masyarakat. Dengan pendampingan dan penguatan kapasitas secara berkelanjutan, inovasi-inovasi tersebut diharapkan tidak hanya memberikan manfaat dalam jangka pendek, tetapi dapat berkembang menjadi model pemberdayaan masyarakat yang adaptif, berkelanjutan, dan berpotensi direplikasi di berbagai wilayah Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *