
Edukreatif.id – Seorang diberi sematan sebagai tokoh budaya. Tentu saja tidak hanya senang menerima sematan yang bermakna saja, dirinya memiliki tanggung jawab menjaga budaya literasi. Hal ini menjadi topik yang menarik untuk disajikan lebih lanjut dalam tulisan ini.
Menurut penulis, jika memang predikat itu disematkan, selanjutnya sebagai seorang “tokoh budaya”, maka pertama kali yang dilakukan yaitu menyambut baik. Masalah yang selanjutnya digeluti dengan antusias adalah semangat menjaga budaya literasi dengan antusias.
Mengapa masalah tersebut relevan dan penting, sebab di tengah derasnya arus digitalisasi dan budaya instan akan berpotensi kuat menggeser tradisi membaca, menulis, dan berpikir kritis.
Sebagai penulis yang menaruh perhatian besar pada isu literasi budaya, penulis menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya atas terselenggaranya The 4th International Conference on Language, Literature, and Teaching (ICoLLiT) 2025. Konferensi ini mengangkat tema besar “Revitalizing Literacy Culture” sebagai upaya menggugah kembali semangat literasi dalam menghadapi tantangan zaman. Dari sesi pembukaan yang khidmat, sambutan dari para akademisi, hingga paparan dari para keynote speaker Dr. Ganjar Harimansyah, S.S., M.Hum., kemudian Dr. Misita Anwar dari Monash University dan Prof. Dr. Marian Klamer dari Leiden University konferensi ini menghadirkan beragam perspektif global dan lokal tentang pentingnya menjaga literasi sebagai basis peradaban.
Salah satu momen penting dalam konferensi ini adalah paparan dari keynote speaker Dr. Ganjar Harimansyah, S.S., M.Hum., Sekretaris Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kemendikbudristek, yang mengusung subtema “Literasi sebagai Ruang Transformasi.” Ganjar menegaskan bahwa literasi bukan sekadar kemampuan teknis membaca dan menulis, melainkan mencakup kemampuan memahami, menginterpretasi, dan merespon nilai-nilai budaya yang hidup di masyarakat. Literasi budaya, menurut beliau, menjadi fondasi penting agar masyarakat tidak tercabut dari akar budayanya.
Ganjar juga menyampaikan slogan strategis: “Utamakan bahasa Indonesia, lestarikan bahasa daerah, dan kuasai bahasa asing.” Slogan ini bukan hanya ajakan kebahasaan, tetapi sekaligus mengandung visi kebudayaan yang integral: menjadikan bahasa Indonesia sebagai simbol persatuan, merawat bahasa daerah sebagai warisan identitas, dan menguasai bahasa asing sebagai jembatan global. Gagasan tersebut sejalan dengan misi literasi sebagai ruang transformasi: memperkuat identitas, membangun konektivitas, serta memampukan masyarakat untuk berpikir reflektif dan komunikatif dalam dunia yang multibahasa dan multikultural.

Sebagai acara yang berusaha menggugah Kembali semangat budaya literasi yang mampu menjadi perawat kebudayaan, peradaban bangsa. Bangsa Indonesia sebagai salah satu bangsa yang secara kultural sangat kaya raya.
Mengapa budaya literasi butuh dijaga? Banyak alasan yang bisa mendasari kebutuhan menjaga budaya literasi.
Pertama, Literasi sebagai akar peradaban.Sejak dahulu, bangsa-bangsa besar bertahan dan berkembang, karena tradisi literasinya kuat. Misal: tercermin dalam manuskrip, karya sastra, naskah kuno, dan dokumentasi pengetahuan. Dengan begitu, masalah menjaga budaya literasi berarti menjaga identitas dan keberlanjutan kebudayaan.
Kedua, Literasi memperkuat daya nalar masyarakat. Masyarakat yang gemar membaca dan menulis akan lebih reflektif, kritis, dan bijak dalam menyikapi informasi. Ini penting agar masyarakat tidak mudah terprovokasi oleh hoaks, propaganda, budaya instan dan era ketidak pastian VUCA.
Ketiga, Literasi sebagai perlawanan terhadap pelupaan. Banyak nilai-nilai lokal, bahasa daerah, cerita rakyat, dan sejarah lisan yang bisa punah jika tidak dituliskan dan dibaca ulang oleh generasi muda. Literasi menjadi sarana pelestarian budaya yang paling kuat.
Tantangan Literasi di Era Modern
Bangsa Indonesia menghadapi masalah literasi, antara lain: (a) Dominasi visual dan media sosial: Masyarakat kini lebih senang menonton daripada membaca, lebih aktif memproduksi konten singkat daripada menulis dengan mendalam. (b) Menurunnya minat baca di kalangan muda: Banyak generasi muda tidak tumbuh dalam ekosistem yang mendukung kegemaran membaca, apalagi menulis. Dan (c) Minimnya ruang ekspresi budaya literasi lokal. Literatur dari daerah-daerah sering tersisih oleh arus budaya populer global.
Selanjutnya, yang menjadi Langkah terbaik agar budaya literasi terjaga dengan baik adalah melaksanakan beberapa usaha. Usaha berikut ditawarkan dalam rangka eksistensi budaya literasi. Usaha yang bisa dibangun agar semangat budaya literasi tetap terjaga. Bahwa, Literasi sebagai bagian dari gaya hidup sehingga literasi tidak harus selalu serius atau akademis. Membaca puisi, membuat jurnal harian, menulis cerita pendek, hingga berdiskusi buku di komunitas semuanya adalah bagian dari budaya literasi yang hidup. Kemudian, literasi digital sebagai peluang baru sehingga jangan alergi terhadap teknologi. Blog, e-book, podcast literasi, dan media sosial bisa dijadikan ruang baru untuk menyebarkan semangat literasi dengan cara yang relevan bagi generasi kini.
Aktivitas secara terus-menerus yaitu mengangkat kembali kearifan lokal juga penting untuk diusahakan secara serius. Menulis dan membaca kembali kisah-kisah lokal, peribahasa, cerita rakyat, atau sejarah daerah bisa menjadi cara menyalakan semangat literasi yang membumi dan bermakna
Kontributor : Drs. Agus Budi Wahyudi, M. Hum. & Mellyonisa Athariq Samsulhadi
Leave a Reply