
KARANGANYAR — Di tengah tuntutan era digital, organisasi kemasyarakatan juga dituntut untuk beradaptasi agar tata kelola kelembagaan menjadi lebih efektif, transparan, dan berkelanjutan. Langkah itulah yang kini mulai dilakukan Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Kebakkramat, Kabupaten Karanganyar, melalui pembangunan sistem inventarisasi digital Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) berbasis website.
Transformasi tersebut lahir melalui program pengabdian masyarakat yang dilaksanakan tim Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) dalam skema Pengabdian Masyarakat Berbasis Pengembangan Persyarikatan Muhammadiyah (P2M).
Bagi organisasi sebesar Muhammadiyah, pengelolaan data bukan sekadar urusan administrasi. Data menjadi fondasi penting untuk perencanaan, pengambilan keputusan, hingga memastikan aset dan amal usaha organisasi dapat terkelola secara baik.
Ketua tim pengabdian UMS, Yunus Aris Wibowo, mengatakan, kebutuhan akan sistem inventarisasi digital muncul dari kondisi di lapangan, ketika data AUM di PCM Kebakkramat masih tersimpan secara manual dan belum terintegrasi dalam satu sistem yang mudah diakses.

“Ketika organisasi berkembang, jumlah amal usaha bertambah, jaringan semakin luas, maka kebutuhan terhadap data yang tertata menjadi sangat penting. Data yang baik akan membantu organisasi bergerak dengan lebih terarah,” kata Yunus.
PCM Kebakkramat merupakan salah satu cabang Muhammadiyah di Kabupaten Karanganyar yang memiliki jaringan organisasi cukup besar. Cabang ini membawahi 10 Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) dengan sejumlah Amal Usaha Muhammadiyah (AUM), terutama di bidang pendidikan.
Namun, di tengah potensi tersebut, pengelolaan data AUM selama ini masih menghadapi sejumlah keterbatasan, mulai dari belum adanya sistem database digital yang terpusat, belum tersedianya website resmi sebagai basis inventarisasi, hingga keterbatasan sumber daya manusia dalam pengelolaan sistem berbasis teknologi.
Melalui program pendampingan yang dilakukan UMS, kondisi itu mulai dibenahi secara bertahap.
Tim pengabdian melakukan identifikasi, pendataan, dan survei lapangan secara langsung untuk memetakan aset dan AUM di lingkungan PCM Kebakkramat. Hasilnya, sebanyak 36 titik lokasi AUM dan aset berhasil didata, mulai dari sekolah, masjid, mushala, gedung dakwah, hingga titik-titik lokasi yang berkaitan dengan struktur organisasi Muhammadiyah di tingkat cabang dan ranting.
Pendataan dilakukan dengan pendekatan berbasis teknologi geospasial, memanfaatkan perangkat seperti GPS, UAV-drone, dan aplikasi pengumpulan data digital, sehingga informasi yang dihimpun tidak hanya bersifat administratif, tetapi juga memiliki akurasi spasial yang dapat divisualisasikan dalam bentuk peta digital.
Menurut Yunus, pendekatan ini penting karena inventarisasi organisasi tidak cukup hanya mencatat keberadaan aset, tetapi juga memastikan data tersebut dapat diakses, diperbarui, dan digunakan untuk mendukung pengembangan organisasi di masa mendatang.
“Digitalisasi bukan hanya soal memindahkan data ke komputer atau website, tetapi bagaimana data itu bisa menjadi bagian dari sistem yang hidup, terus diperbarui, dan bermanfaat untuk organisasi,” ujarnya.
Seluruh hasil pendataan kemudian diintegrasikan ke dalam website resmi https://muhammadiyahkebakkramat.org, yang kini menjadi pusat inventarisasi digital AUM PCM Kebakkramat.
Website tersebut dirancang tidak hanya sebagai tempat penyimpanan data, tetapi juga sebagai sarana informasi publik. Melalui platform ini, masyarakat dapat mengakses informasi terkait AUM, melihat distribusi aset secara digital, sekaligus mengikuti perkembangan kegiatan Muhammadiyah di wilayah Kebakkramat.
Bagi PCM Kebakkramat, kehadiran website ini menjadi langkah baru dalam membangun tata kelola organisasi yang lebih modern.
Selain pembangunan sistem, program pengabdian ini juga menitikberatkan pada aspek keberlanjutan, yakni memastikan bahwa teknologi yang dibangun dapat dikelola secara mandiri oleh kader Muhammadiyah setempat.

Sebanyak 25 kader Muhammadiyah PCM Kebakkramat mengikuti pelatihan pengelolaan website yang dilaksanakan dalam tiga tahap sejak akhir 2025 hingga awal 2026 (27 Desember 2025, 25 Januari 2026, dan 14 Februari 2026).
Pelatihan tersebut mencakup penggunaan dasar website, pengelolaan data, pembaruan informasi, manajemen admin, penulisan berita, hingga pemeliharaan sistem.
Tim pengabdian juga menyusun Modul Pengelolaan Website sebagai pedoman operasional agar proses transfer pengetahuan tidak berhenti pada pelatihan, tetapi dapat diteruskan oleh kader yang nantinya bertanggung jawab terhadap pengelolaan sistem.
“Yang kami bangun bukan hanya websitenya, tetapi juga manusianya. Karena teknologi akan berjalan baik jika ada SDM yang mampu mengelola dan merawatnya,” kata Yunus.
Program ini juga mendapat perhatian dari jajaran Muhammadiyah daerah. Dalam pelatihan tahap pertama, Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Karanganyar, Ustadz Muhammad Arif Babheir, S.Ag., M.Pd., hadir untuk meninjau sekaligus meresmikan website inventarisasi digital tersebut.
Dampak program ini dirasakan langsung oleh PCM Kebakkramat. Sebelum program berjalan, data AUM masih tersimpan dalam bentuk pencatatan manual dan belum memiliki sistem digital yang terintegrasi.
Kini, PCM Kebakkramat telah memiliki website inventarisasi digital, database AUM berbasis online, peta distribusi AUM, serta kader yang terlatih untuk mengelola sistem secara mandiri.
Digitalisasi ini diharapkan tidak hanya memudahkan administrasi organisasi, tetapi juga memperkuat transparansi, akuntabilitas, serta membuka akses informasi yang lebih luas kepada warga Muhammadiyah dan masyarakat.
Bagi UMS, program ini menjadi salah satu contoh bahwa pengabdian kepada masyarakat dapat hadir sebagai solusi nyata yang menjawab kebutuhan mitra, sekaligus memperkuat peran perguruan tinggi dalam mendukung transformasi organisasi di era digital.
“Harapannya, apa yang dilakukan di Kebakkramat ini bisa menjadi model yang dapat dikembangkan di tempat lain. Muhammadiyah memiliki jaringan yang besar, dan penguatan tata kelola berbasis digital menjadi bagian penting untuk masa depan organisasi,” ujar Yunus.





Leave a Reply