Press ESC to close

Dari Santriwati hingga Jadi MC, Zeynna Menemukan Ruang Berkembang di BIM University


Denpasar, Bali – Setelah menyelesaikan pendidikan sekolah dan memutuskan melanjutkan studi di Bali International University (BIM University), Zeynna Debriano Ifaldi, mahasiswa semester 1 Program Studi Bisnis Digital, mulai menemukan ruang baru untuk mengembangkan diri. Mahasiswa yang akrab disapa Zeynna tersebut menjadikan kehidupan kampus sebagai kesempatan untuk memperluas pengalaman, membangun relasi, dan mengasah kemampuan sosial.

Keinginan untuk berkembang tersebut telah menjadi motivasi Zeynna sebelum memasuki dunia perkuliahan. Ia ingin memanfaatkan masa kuliah tidak hanya untuk belajar secara akademik, tetapi juga untuk berani mengambil bagian dalam berbagai kegiatan dan pengalaman baru di lingkungan kampus.

Sebelumnya, Zeynna merupakan santriwati Pondok Pesantren Modern Putri (PPMP) Al-Kautsar Srono, Banyuwangi. Santri asal Denpasar, Bali, tersebut dikenal aktif dalam organisasi. Pada tahun ajaran 2023–2024, ia dipercaya sebagai Organization Representative. Kemudian, pada tahun ajaran 2024–2025, Zeynna dipercaya mengemban amanah sebagai Chairman of the Organization.

Memasuki kehidupan perkuliahan setelah menjalani pendidikan di pesantren, Zeynna mengakui bahwa proses beradaptasi dengan lingkungan baru menjadi tantangan tersendiri. Ia harus kembali menyesuaikan diri dengan lingkungan pertemanan dan kehidupan sosial yang memiliki karakter berbeda dengan kehidupan pesantren.

Namun, pengalaman mengikuti Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) perlahan mengubah pandangannya. Zeynna mulai memahami bahwa kehidupan sosial di perguruan tinggi tidak sesulit yang sebelumnya ia bayangkan. Lingkungan kampus justru memberikan kesempatan bagi dirinya untuk mengenal lebih banyak orang, berkomunikasi dengan berbagai karakter, serta mengembangkan kepercayaan diri.

Semangat tersebut mulai diwujudkan sejak awal masa perkuliahan. Pada semester pertamanya, Zeynna telah aktif mengikuti berbagai kegiatan yang diselenggarakan BIM University. Salah satunya adalah kegiatan “Penulisan Proposal Hibah Nasional untuk Dosen Muda dan Vokasi 2026”.

Dalam kegiatan tersebut, Zeynna mendapatkan kesempatan menjadi Master of Ceremony (MC). Kesempatan tersebut menjadi pengalaman berharga karena ia harus tampil di hadapan para dosen muda dan peserta dari bidang vokasi.

Workshop tersebut membahas berbagai hal terkait penyusunan proposal hibah, mulai dari pengembangan ide penelitian, penyusunan proposal, hingga strategi menghasilkan proposal yang sesuai dengan ketentuan hibah nasional.

“Kegiatan ini diharapkan dapat memberikan wawasan dan keterampilan kepada peserta dalam menyusun proposal hibah yang lebih baik,” ujar Zeynna.

Kegiatan berlangsung melalui sesi penyampaian materi, diskusi, dan pendampingan. Melalui workshop tersebut, peserta diharapkan mampu menerapkan pengetahuan yang diperoleh untuk menghasilkan proposal penelitian yang inovatif dan berkualitas.

Tidak berhenti pada satu kegiatan, Zeynna juga aktif mengikuti sejumlah kegiatan lain yang diselenggarakan oleh Muhammadiyah. Pada 27 September 2026 dan 4 Oktober 2026, ia kembali terlibat dalam rangkaian kegiatan yang mempertemukan mahasiswa, sivitas akademika, dan masyarakat.

Dalam kegiatan Tabligh Akbar yang berlangsung pada 4 Oktober 2026, Zeynna turut menjadi bagian dari rangkaian acara. Pada kesempatan tersebut, Rektor BIM University, Prof. Dr. Harun Joko Prayitno, menyampaikan berbagai informasi mengenai perkembangan BIM University, termasuk komitmen kampus dalam memberikan kesempatan pendidikan kepada generasi muda.

Zeynna kemudian kembali dipercaya tampil sebagai Master of Ceremony dalam rangkaian Official Launching PMB Tahun Akademik 2027/2028. Kepercayaan tersebut menjadi pengalaman penting bagi mahasiswa semester 1 tersebut sekaligus menunjukkan keberaniannya untuk tampil dan mengambil peran sejak awal masa perkuliahan.

Pengalaman tersebut sekaligus mengubah pandangan Zeynna mengenai kehidupan sosial di lingkungan perguruan tinggi. Kekhawatiran bahwa kehidupan sosial setelah keluar dari pesantren akan menjadi sesuatu yang rumit perlahan terbantahkan. Justru, melalui berbagai kegiatan kampus, ia menemukan ruang untuk belajar, berkomunikasi, dan membangun kepercayaan diri.

Dengan membawa perspektif sebagai mahasiswa asal Bali sekaligus memiliki latar belakang pendidikan pesantren, Zeynna berharap pengalamannya dapat menjadi inspirasi bagi mahasiswa lain yang mungkin masih merasa kurang percaya diri dalam bersosialisasi.

Baginya, keberanian untuk berkembang tidak harus dimulai dari sesuatu yang besar. Berpartisipasi dalam kegiatan sederhana, berani berbicara di depan orang lain, dan membuka diri terhadap lingkungan baru dapat menjadi langkah awal untuk membangun kepercayaan diri.

Melalui berbagai pengalaman tersebut, Zeynna ingin terus memperluas wawasan, membangun jejaring, dan memberikan manfaat bagi lingkungan sekitarnya. Perjalanan dari pesantren menuju dunia kampus menjadi bagian penting dalam prosesnya menemukan keberanian untuk berkembang dan mengambil peran.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *