
Edukreatif.id, Wonogiri – Museum Class adalah pembelajaran berjalan yang menjadikan museum berperan sebagai sumber belajar alternatif dalam pengenalan sejarah dan kebudayaan Nusantara dari masa lalu yang kemudian bertransisi menjadi metropolitan. Peralihan perkembangan kebudayaan dipengaruhi oleh faktor alam dan faktor budaya yang mengandung nilai kebiasaan, norma, adat, atau gaya hidup yang melahirkan kebudayaan baru. Percampuran kebudayaan (asimilasi) tersebut dengan kemudian nyawiji yang terekam indah dalam miniatur tiga dimensi diorama wilayah.
Pembelajaran berjalan dilakukan bukan dengan dasar untuk berganti suasana belajar dari indoor ke outdoor. Namun, kegiatan ini menitikberatkan pada penanaman nilai-nilai kebhinekaan dengan sarana memanfaatkan museum sebagai sumber belajar. Oleh karena itu, harapannya siswa dapat belajar sambil bermain. Belajar secara pengertianya disebut sebagai tindakan sengaja seseorang untuk memperoleh ilmu (melepas jerat kebodohan/ketidaktahuan). Hal tersebut selaras dengan pernyataan, Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Prof. Dr. H. Haedar Nashir, M.Si. bahwa pendidikan harus menjadi pondasi bagi pembentukan manusia yang utuh, baik dalam aspek spiritual, intelektual, maupun praktis.
Keresahan guru dan orang tua dalam pembentukan karakter anak ini menemui tantangannya sebab zaman yang semakin edan. Banyak berita berseliweran meliput kejadian mengerikan hilangnya budaya ketimuran pada diri anak bangsa. Kerusakan nilai ini terjadi secara terstruktur di berbagai lini kehidupan termasuk didalamnya, dunia pendidikan. Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) RI, Prof. Dr. Abdul Mu’ti, mengatakan bangsa Indonesia tengah mengalami learning loss yang cukup serius. Seperti diketahui, learning loss yang dimaksud adalah kondisi di mana motivasi, kemampuan belajar, dan pencapaian akademis siswa menurun. Untuk itu, guru berupaya menjadikan kegiatan pembelajaran berjalan (outing class) ini sebagai strategi pembelajaran untuk menginstall nilai-nilai kebhinekaan dengan menelusuri jejak-jejak peninggalan nenek moyang yang kemudian menjadikan Nusantara memiliki kekayaan intelektual dan kebudayaan yang beragam.
Strategi pembelajaran yang diupayakan guru tidak akan terlaksana tanpa rangkaian fase atau langkah-langkah kegiatan untuk mencapai tujuan yang ingin dicapai. Sebab itu, pembelajaran berjalan direncanakan bukan untuk membangun suasana menyenangkan namun didasari pada tujuan untuk menginternalisasi nilai kebhinekaan global.
Pengaktifan Nilai Kebhinekaan
Guru dituntut untuk aktif dan kreatif dalam memberikan sumber belajar. Meskipun diluar sana kecanggihan era teknologi berlari secepat kilat tetap saja tidak mampu menjangkau atau menggantikan kehadiran-keterlibatan guru dalam membimbing dan membina karakter siswa. Sebab setiap kemajuan ada harga untuk menebusnya. Dan bayaran itu, anak bangsa kehilangan jati diri, memiliki egosentrik yang tinggi, individualis, terjebak zona nyaman, dan karakter-karakter rendah yang berseberangan dengan nilai kebhinekaan.
Untuk itu, guru mengaplikasikan pembelajaran berjalan ini sesuai dengan Lickona (1991), bahwa pendidikan moral/nilai didalamnya terkandung dalam tiga komponen yang baik (components of good character) yaitu pengetahuan tentang moral, perasaan tentang moral, dan perbuatan moral. Strategi ini menunjang kesiapan anak untuk menumbuhkembangkan karakter baik. Sejalan dengan itu uraian capaian aspek pembelajaran pada kegiatan outing class menghasilkan, (1) kognitif: kemampuan memperoleh pengetahuan dan beradaptasi dengan lingkungan, (2) motorik: kegiatan menggerakan tubuh atau otot-otot, (3) bahasa: kemampuan berkomunikasi dan memahami lingkungan sekitar, (4) sosial-emosional: belajar berinteraksi dengan sosial, teman sebaya, dan pengunjung lain di museum, (5) seni: merangsang tingkat kreativitas anak dalam berpikir, (6) nilai agama moral: belajar mensyukuri ciptaan Tuhan Yang Maha Esa.
Pembelajaran berjalan ini mendorong siswa keluar dari kadang, belajar menghadapi dunia baru bukan hanya cerdas bersembunyi di belakang buku dan soal-soal ujian. Seperti Rabu, 21 Mei 2025 sejumlah 54 siswa SD Muhammadiyah Inovatif Baturetno melaksanakan Outing Class di Museum Song Terus yang terletak di Punung Kabupaten Pacitan, Jawa Timur. Kegiatan berlangsung dengan suasana interaktif dan sesuai dengan capaian. Oleh karena itu, museum class harus digalakkan sekolah dan guru agar museum dapat dimanfaatkan sebagai sumber belajar bukan hanya sebagai tempat wisata.
Strategi Pembelajaran, Bermain sambil belajar
Kegiatan pembelajaran berjalan ini memberikan peluang bagi siswa untuk melihat dan mempelajari langsung koleksi benda-benda peninggalan bersejarah seperti kayu fosil, diorama, dan artefak warisan manusia zaman purba. Sebagaimana Bapak Pendidikan Indonesia mengatakan bahwa semua tempat adalah sekolah, setiap orang adalah guru. Tidak terkecuali dengan Museum yang terjudge kuno oleh sekalangan remaja padahal didalamnya tersimpan harta karun warisan leluhur bangsa, mozaik, benda-benda keramat bernilai jutaan tahun lalu, kebudayaan nenek moyang, dan asal-muasal akar kebhinekaan Nusantara, begitu paparan pemandu bernama Kak Sekar Rizqy Amalia, seorang arkeolog yang ahli dalam bidangnya.
Hal tersebut sejalan dengan pernyataan Prof. Dr. Harun Joko Prayitno, M.Hum cara efektif untuk mengajak anak belajar ialah dengan do something do learning. Juga seperti kata pepatah, pengalaman adalah guru terbaik dalam kehidupan. Kesimpulannya, kegiatan pembelajaran berjalan (museum class) ini dapat digunakan sebagai strategi pembelajaran tanpa mengesampingkan capaian pembelajaran.
Kontributor : Pratiwi Yulia Saputri
Leave a Reply