
Denpasar, Bali — Penelitian perguruan tinggi perlu diarahkan tidak hanya untuk menghasilkan publikasi, tetapi juga memberikan dampak yang nyata bagi masyarakat, industri, pemerintah, maupun pengembangan ilmu pengetahuan. Hal tersebut disampaikan Prof. Ir. Chandra Wahyu Purnomo, S.T., M.E., M.Eng., D.Eng., IPM dalam Workshop Penulisan Proposal Hibah Nasional untuk Dosen Muda dan Vokasi 2026 yang berlangsung di BIM University, 23–25 September 2026.
Dalam paparannya, Prof. Chandra menekankan pentingnya dosen melihat penelitian sebagai proses untuk menghasilkan solusi terhadap persoalan nyata. Menurutnya, penelitian yang baik perlu memiliki arah yang jelas sejak awal, mulai dari pemilihan topik, perumusan masalah, target capaian, hingga manfaat dan dampak yang hendak dihasilkan.
Ia mendorong peserta workshop untuk tidak sekadar mengulang topik-topik penelitian yang sudah banyak dilakukan. Dosen perlu aktif menggali persoalan baru, perkembangan teknologi, kebutuhan masyarakat, maupun tantangan yang muncul di berbagai sektor untuk menemukan ruang penelitian yang memiliki kebaruan.
“Mari menggali topik-topik yang baru untuk dituangkan dalam peta jalan. Dari sana kita bisa melihat inovasi dan invensinya seperti apa,” ujar Prof. Chandra.
Menurutnya, gagasan penelitian yang potensial perlu ditempatkan dalam peta jalan (roadmap) penelitian yang jelas. Roadmap bukan sekadar dokumen administratif, melainkan instrumen untuk menunjukkan arah pengembangan riset dalam jangka menengah dan panjang. Melalui roadmap, peneliti dapat melihat keterkaitan antara penelitian yang dilakukan saat ini dengan penelitian berikutnya hingga menghasilkan produk atau solusi yang lebih matang.
Prof. Chandra juga menjelaskan pentingnya membedakan antara inovasi dan invensi dalam pengembangan hasil penelitian. Invensi berkaitan dengan temuan atau gagasan baru yang dihasilkan melalui proses penelitian, sedangkan inovasi menekankan bagaimana temuan tersebut dikembangkan dan dimanfaatkan sehingga memberikan nilai tambah serta menjawab kebutuhan pengguna.
Karena itu, dalam penyusunan proposal hibah, dosen perlu memikirkan sejak awal mengenai kemungkinan pengembangan hasil penelitian. Tidak berhenti pada temuan akademik, penelitian diharapkan dapat diarahkan menjadi teknologi, metode, model, produk, kebijakan, atau bentuk inovasi lain yang memiliki manfaat dan peluang pengembangan lebih lanjut.
Dalam workshop tersebut, peserta juga didorong untuk melihat keterkaitan antara kebaruan, roadmap, luaran, dan dampak penelitian sebagai satu kesatuan. Topik yang baru perlu memiliki alasan kuat mengapa penting diteliti, kemudian diterjemahkan ke dalam tahapan penelitian yang terukur hingga menghasilkan luaran yang relevan.

Pendekatan tersebut dinilai penting bagi dosen muda dan vokasi yang sedang membangun rekam jejak penelitian. Proposal hibah, menurut Prof. Chandra, seharusnya tidak hanya menjelaskan apa yang akan diteliti, tetapi juga menunjukkan arah pengembangan riset dan manfaat yang dapat dihasilkan dari penelitian tersebut.
Workshop Penulisan Proposal Hibah Nasional untuk Dosen Muda dan Vokasi 2026 di BIM University menjadi ruang bagi peserta untuk mengembangkan perspektif tersebut. Melalui pembekalan dari narasumber, peserta diarahkan untuk menyusun proposal yang tidak hanya kuat secara akademik, tetapi juga memiliki kebaruan, arah pengembangan yang jelas, potensi inovasi, serta dampak yang dapat diukur.
Pemikiran tersebut diharapkan menjadi bekal bagi peserta dalam mengembangkan proposal hibah yang lebih strategis dan berkelanjutan. Dengan penelitian yang dirancang berdasarkan persoalan baru dan roadmap yang jelas, perguruan tinggi dapat semakin berperan dalam menghasilkan ilmu pengetahuan, inovasi, dan invensi yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Leave a Reply