
Edukreatif.id, Kuala Lumpur – Seremoni Pembukaan Program Pengabdian Masyarakat Kemitraan Internasional (PPM KI) Angkatan 14 digelar pada Selasa, 20 Januari 2026, pukul 15.00–17.00 waktu Malaysia. Kegiatan berlangsung di Wisma Takurdas, Kuala Lumpur, Malaysia, sebagai penyambutan sekaligus pelepasan mahasiswa peserta untuk menjalankan pengabdian. Seremoni berjalan lancar dan menjadi penanda dimulainya program pengajaran selama satu bulan di sejumlah titik komunitas Indonesia di Malaysia.
Suasana pembukaan penuh harap
Di dalam ruangan, suasana terasa hangat namun khidmat sejak pembukaan oleh MC. Para peserta datang dari berbagai kampus Muhammadiyah dan duduk berdampingan dengan dosen pengabdian serta pengurus SIKL. Sejumlah pihak yang terlibat memandang momen pembukaan ini sebagai awal “kerja sunyi” yang dampaknya akan dirasakan langsung oleh anak-anak Indonesia di perantauan.
Seremoni kemudian dilanjutkan dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Sang Surya yang menegaskan identitas dan semangat kebangsaan para peserta. Setelah itu, rangkaian acara bergulir tertib sesuai susunan kegiatan yang telah disiapkan. Di akhir sesi, peserta dan tamu undangan menutup acara dengan foto bersama sebagai simbol kebersamaan dan kesiapan menjalankan amanah pengabdian.
Pengarahan SIKL menegaskan misi pendidikan
Plh Kepala SIKL, Haidir Ali, menyampaikan sambutan sekaligus pengarahan kegiatan kepada mahasiswa PPM KI Angkatan 14. Ia menegaskan bahwa fokus utama program kali ini adalah memberikan informasi kepada siswa sekolah di Malaysia agar kembali pulang ke Indonesia untuk memperoleh program pendidikan formal. Pesan tersebut menempatkan mahasiswa bukan hanya sebagai pengajar, tetapi juga sebagai pendamping yang membantu membuka akses dan arah masa depan pendidikan anak-anak Indonesia.
Pengarahan ini juga memperkuat alasan mengapa PPM KI dilaksanakan di ruang-ruang komunitas, tempat anak-anak Indonesia belajar dengan berbagai keterbatasan. Dalam konteks itu, pengajaran yang dilakukan mahasiswa diharapkan tidak berhenti pada materi pelajaran, tetapi juga memberi motivasi dan kepercayaan diri. Harapannya, program PPM KI terus berkembang, berdampak, dan menjadi jembatan antara kebutuhan pendidikan diaspora Indonesia dengan peluang pendidikan formal di Tanah Air.
Simbolis atribut menyentuh peserta
Salah satu bagian yang paling berkesan adalah simbolis pembuka kegiatan melalui penyematan atribut kepada perwakilan mahasiswa. Dua mahasiswa maju ke depan untuk dikenakan almamater dan lanyard sebagai tanda resmi dimulainya pengabdian. Momen ini menjadi penanda bahwa status “peserta” telah berubah menjadi “pengemban tugas”, dan tanggung jawab pengajaran segera dimulai.
Dua perwakilan tersebut adalah Fatimah Azzahroh (putri) dari Universitas Muhammadiyah Surakarta dan Zildan Zultonika (putra) dari Universitas Muhammadiyah Ponorogo. Tepuk tangan menyambut ketika keduanya berdiri mewakili puluhan rekannya, karena simbol sederhana itu menghadirkan rasa bangga sekaligus haru. Di titik ini, seremoni tidak lagi terasa sebagai acara seremonial semata, tetapi menjadi peristiwa personal bagi setiap peserta yang akan mengajar selama satu bulan ke depan.
64 mahasiswa siap mengajar sebulan
Data peserta menunjukkan terdapat 64 mahasiswa yang mengikuti program ini dari kampus-kampus Muhammadiyah. Para mahasiswa datang dari beragam bidang studi, sehingga kebutuhan pengajaran di lapangan dapat ditopang oleh perspektif yang lebih luas. Kegiatan utama yang akan dijalankan selama satu bulan adalah pengajaran, sesuai arahan program dan kebutuhan komunitas sasaran.
Dalam seremoni ini, Dr Muhammad Fahmi Johan Syah hadir sebagai perwakilan Asosiasi LPTK PTMA, sekaligus menjadi bagian dari rangkaian laporan kegiatan. Kolaborasi mahasiswa, dosen pengabdian, pengurus SIKL, dan jejaring kelembagaan menjadi modal agar program berjalan tertib dan terukur. Dengan pembukaan yang rapi dan suasana yang positif, peserta membawa pulang satu pesan penting: pengabdian terbaik adalah yang terus tumbuh dan meninggalkan manfaat nyata.

Penutup
Seremoni Pembukaan PPM KI Angkatan 14 menegaskan bahwa pengabdian tidak selalu dimulai dari panggung besar, tetapi dari kesiapan hadir, mendengar, lalu mengajar dengan hati. Selama satu bulan ke depan, para mahasiswa diharapkan mampu memperkuat literasi dan motivasi belajar anak-anak Indonesia di Malaysia, sekaligus mengarahkan mereka pada akses pendidikan formal yang lebih jelas.
Penulis: Abiyan Surya Saputra
Editor: Abiyan Surya Saputra
Leave a Reply