
SURAKARTA — Tradisi lisan, cerita rakyat, dan mitos Nusantara menyimpan kekayaan narasi yang tak ternilai harganya. Mengangkat potensi tersebut, Yayasan Tribuno Svastha Harena bersama Kemendikdasmen menggelar Pelatihan Penulisan Kreatif Berbasis Kearifan Lokal secara daring pada Sabtu (22/8/2026).
Pelatihan ini menuntun para pegiat kreatif dan penulis cerita untuk mengeksplorasi kembali mitos serta kearifan lokal di daerah masing-masing menjadi cerita fiksi yang segar dan memikat.

Pakar sastra UNESA, Dr. Ulinnuha Madyananda, S.S., S.Pd., M.Pd., menjelaskan bahwa mitos dan petatah-petitih adat menyimpan fungsi kontrol sosial dan etika lingkungan yang sangat maju. Ia mencontohkan bagaimana karya legendaris Kayu Naga karya A.A. Navis dan Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari berhasil menyulap mitos menjadi karya sastra yang sarat pesan moral dan menggugah emosi.

Sementara itu, Dwi Atmoko, M.Pd. membagikan kiat menghidupkan latar budaya melalui eksplorasi sensorik—seperti aroma dapur tradisional, detail busana adat, hingga bunyi instrumen musik pengiring ritual.
“Budaya harus menjadi jiwa yang menentukan jalan cerita dan pilihan hidup tokoh, bukan sekadar hiasan latar belakang,” ujar Dwi Atmoko.
Sebagai tindak lanjut, naskah cerpen yang disusun oleh peserta pascapelatihan akan diseleksi untuk diterbitkan ke dalam buku antologi cerpen budaya. Yayasan Tribuno Svastha Harena berharap gerakan kreatif ini terus berlanjut untuk menjaga denyut tradisi di ruang imajinasi publik.
Leave a Reply