Press ESC to close

Perkuat Literasi Keuangan, Tim Pengabdian UMS Edukasi Pekerja Migran Indonesia di Selandia Baru

Bekerja di luar negeri memberikan peluang ekonomi bagi masyarakat Indonesia. Namun, memperoleh penghasilan bukan satu-satunya tantangan yang dihadapi pekerja migran. Kemampuan mengelola pendapatan, menghadapi biaya hidup di negara tujuan, serta memenuhi kebutuhan keluarga di tanah air menjadi persoalan yang tidak kalah penting. Berangkat dari kondisi tersebut, tim pengabdian kepada masyarakat Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menyelenggarakan kegiatan bertajuk “Literasi Keuangan Berbasis Spasial bagi Pekerja Migran Indonesia di New Zealand: Pendekatan Geografi Ekonomi dan Sosial.”

Kegiatan tersebut dilaksanakan secara tatap muka pada 29 Juni 2026 di Auckland, New Zealand dan diikuti oleh 13 Pekerja Migran Indonesia (PMI). Program ini bertujuan memperkuat pemahaman peserta mengenai pengelolaan pendapatan, biaya hidup, penyusunan anggaran, perencanaan tabungan, dan pengelolaan remitansi kepada keluarga di Indonesia.

Penghasilan Besar Belum Tentu Menjamin Keuangan Terencana

Program pengabdian ini mengangkat pendekatan yang berbeda dari edukasi keuangan pada umumnya. Materi tidak hanya membahas cara mengatur uang, tetapi juga menghubungkan pengelolaan keuangan dengan kondisi geografis dan kehidupan sosial pekerja migran. Melalui perspektif geografi ekonomi, peserta diajak memahami pentingnya mempertimbangkan biaya hidup dan kebutuhan ekonomi di negara tujuan. Sementara itu, perspektif geografi sosial menekankan hubungan antara keputusan keuangan pribadi dengan tanggung jawab terhadap keluarga di Indonesia.

“Bekerja di luar negeri tidak hanya tentang memperoleh penghasilan, tetapi juga bagaimana penghasilan tersebut dikelola. Melalui pendekatan geografi ekonomi dan sosial, kami ingin membantu pekerja migran memahami bahwa keputusan keuangan perlu mempertimbangkan biaya hidup di negara tempat bekerja sekaligus kebutuhan keluarga di Indonesia.” ujar Siti Hadiyati Nur Hafida (ketua pelaksana kegiatan pengabdian)

Peserta Merasakan Manfaat di Tengah Kesibukan Bekerja

Kegiatan pengabdian juga memperoleh respons positif dari mitra. Salah satu peserta menyampaikan bahwa kegiatan edukasi sangat bermanfaat karena kesibukan bekerja sehari-hari seringkali membuat perhatian terhadap pengelolaan keuangan menjadi terbatas.

“Kegiatan seperti ini sangat bermanfaat bagi kami. Dengan kesibukan bekerja setiap hari, terkadang kami kurang memperhatikan bagaimana keuangan dikelola. Melalui kegiatan ini, kami diingatkan kembali pentingnya mengatur pendapatan dan merencanakan keuangan untuk masa depan.” ungkap Malinda Sembiring (peserta kegiatan pengabdian)

Respons tersebut memperlihatkan bahwa edukasi keuangan memiliki relevansi dengan kebutuhan pekerja migran, terutama dalam menyediakan kesempatan untuk memahami kembali pentingnya perencanaan keuangan.

Tidak Berhenti pada Edukasi, Pendampingan Akan Dilanjutkan

Sebagai tindak lanjut, tim pengabdian merencanakan pemantauan perkembangan pengelolaan keuangan peserta secara berkala melalui komunikasi daring. Pemantauan tersebut akan difokuskan pada penerapan pengelolaan pendapatan, pengendalian pengeluaran, penyusunan anggaran, perencanaan tabungan, dan pengelolaan remitansi.

“Kami berharap kegiatan ini tidak berhenti pada peningkatan pemahaman. Ke depan, kami ingin memantau bagaimana peserta menerapkan pengetahuan yang diperoleh, sehingga pengelolaan keuangan mereka dapat menjadi lebih terencana dan berkelanjutan.” ujar Siti Hadiyati Nur Hafida

Melalui integrasi perspektif geografi ekonomi dan sosial, program pengabdian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam penguatan literasi keuangan pekerja migran Indonesia di Selandia Baru.

Penghasilan dari bekerja di luar negeri merupakan peluang untuk membangun masa depan. Namun, pengelolaan keuangan yang bijak menjadi kunci agar peluang tersebut dapat memberikan manfaat yang berkelanjutan bagi pekerja migran dan keluarganya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *